1. Klasifikasi Demam
Tipe demam berdasarkan pola dapat dibagi menjadi empat, yaitu :
a. Demam Remitten
Menurun setiap hari namun tidak mencapai normal.
b. Demam Intermitten
Suhu badan menurun normal dalam beberapa jam dalam waktu 1 hari.
c. Demam Kontinyu
Variasi suhu tak berbeda lebih dari 1’C.
d. Demam Siklik
Suhu meningkat beberapa hari, normal, dan meningkat lagi seperti semula.
2. Definisi penyakit yang ditimbulkan oleh Salmonella tyhpi
Demam tifoid atau demam enterik merupakan penyakit demam akut yang disebabkan oleh kuman Salmonella thypi. Penyakit ini dapat pula disebabkan oleh S. Enteritis bioserotip paratyhpi A dan S. Enteridis serotip parathypi B yang disebut demam paratifoid. Tifoid berasal dari bahasa Yunani yang berarti smoke, karena terjadi penguapan panas tubuh serta gangguan kesadaran disebabkan demam yang tinggi.
Port d’entre S. Thypi adalah usus. Seseorang bisa menjadi sakit bila menelan organisme ini. Organisme yang tertelan tadi masuk ke dalam lambung untuk mencapai usus halus. Asam lambung tampaknya kurang berpengaruh terhadap kehidupannya. Organisme secara cepat mencapai usus halus bagian proksimal, melakukan penetrasi ke dalam epitel mukosa S. thypi telah sampai di kelenjar getah bening regional mesenterium dan kemudian trejadi bakteremia dan kuman sampai di hati, limpa, juga sumsung tulang, dan ginjal. S. thypi segera difagosit oleh sel-sel fagosit mononukleus yang ada di organ tersebut. Di sini kuman berkembang biak memperbanyak diri. Inilah karaketristik dari S. thypi yang akan menentukan perjalanan penyakit yang ditimbulkannya.
3. Patogenesis dari infeksi yang ditimbulkan oleh Salmonella thypi
Salmonella thypi masuk tubuh manusia melalui makanan dan air yang tercemar. Sebgaian kuman dimusnahkan oleh asa lambung dan sebagian yang lainnya masuk ke dalam usus halus dan mencapai jaringan limfoid plak Peyeri di ileum terminalis yang hipertrofi. Bila terjadi komlikasi perdarahan dan perforasi intestinal, kuman menembus lamina propia, masuk alirna limfe mencapai kelenjar limfe mesenterial, dan masuk alirna darah melaui duktus torasikus. Salmonella thypi lain dapat mencapai hati melalui sirkulasi portal usus. S. thypi bersarang di plak Peyeri, limpa, hati, dan bagian-bagian lain sistem retikuloendotelial. Endotoksin S. thypi berperan dalam proses inflamasi lokal pada jaringan tempat kuman tersebut berkembangbiak. S. thypi dan endotoksinnya merangsang sintesis dan pelepasan zat pirogen dan leukosit pada jaringan yang meradang, sehingga terjadi demam.
4. Deskripsi dan mikrobiologi kuman Salmonella thypi :
Salmonella thypi merupakan organisme yang berasal dari genus Salmonella, agen penyebab bermacam-macam infeksi, mulai dari gastroenteritis yang paling ringan sampai dengan demam tifoid yang berat disertai bakteremia.
v Morfologi : kuman berbentuk batang, tidak berspora, pada pewarnaan gram bersifat negatif Gram, ukuran 1-3,5 µm x 0,5-0,8 µm, besar koloni rata-rata 2-4 mm, mempunyai flagel peritrikh kecuali Salmonella pullorum dan Salmonella gallinarum.
v Fisiologi : kuman tumbuh pada suasana aerob dan fakultatif anaerob, pada suhu 15-41oC (optimum pertumbuhan 37,5oC) dan pada pH 6-8. Salmonella thypi hanya sedikit membentuk gas H2S dan tidak memebntuk gas pada fermentasi glukosa. Pada agar SS, Endo, EMB, dan MacConkey koloni kuman berbentuk bulat, kecil, dan tidak berwarna, pada agar Wilson-Blair koloni kuman berawarna hitam.
v Daya Tahan : kuman mati pada suhu 56oC juga pada keadaan kering. Dalam air bisa tahan selama 4 minggu. Hidup subur pada medium yang mengandung garam empedu. Tahan terhadapat zat warna hijau brilian dan senyawa Natrium tetraionat, dan Natrium deoksiholat.
5. “Sign and Symtomps” dari penyakit thypoid
Demam tifoid berlangsung antara 10-14 hari. Gejala-gejala klinis yang timbul sangat bervariasi dari ringan sampai denga berat, dari asimtomatik hingga gambaran penyakit yang khas disertai komplikasi hingga kematian.
v Gejala pada minggu pertama :
· Demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare
· Perasaan tidak enak di perut, batuk, epistaksis
· Pada pemeriksaan fisik hanya didapati suhu badan yang meningkat. Sifat demamnya meningkat perlahan-lahan terutama pada sore hingga malam hari.
v Gejala pada minggu kedua :
· Demam
· Bradikardia relatif (bradikardia relatif adalah peningktan suhu 1oC tidak diikuti dengan peningkatan denyut nadi 8 kali/menit)
· Lidah berselaput (kotor di tengah, tepi, dan ujung merah serta tremor)
· Hepatomegali, spleenomegali, meteroismus
· Gangguan mental berupa somnolen, stupor, koma, delirium, atau psikosis
· Rosolae jarang ditemukan pada orang Indonesia
6. Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan dan fungsinya
v Pemerikasaan rutin :
Pada pemeriksaan darah perifer lengkap sering ditemukan leukopenia namun dapat pula terjadi kadar leukosit yang normal atau leukositosis. Leukositosis dapat terjadi walaupun tanpa disertai infeksi sekunder. Selain itu dapat juga ditemukan anemia ringan dan trombositopenia.
Pada pemeriksaan hitung jenis leukosit dapat terjadi aneosinofilia maupun limfopenia. Laju endap darah pada demam tifoid dapat meningkat.
SGOT dan SGPT dapat meningkatm tetapi akan menjadi normal setelah sembuh.
v Uji Widal :
Uji Widal dilakukan untuk mendeteksi antibodi terhadapt kuman S. thypi. Pada uji ini terjadi reaksi aglutinasi antara antigen kuman S. thypi dengan antibodi yang disebut aglutinin.
Maksud uji Widal adalh untuk menemukan adanya aglutinin dalam serum penderita tersangka demam tifoid yaitu :
· Aglutinin O (somatik kuman)
· Aglutinin H (flagela kuman)
· Aglutinin Vi (envelope kuman)
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang digunakan untuk diagnosis demam tifoid. Semakin tinggi titernya semakin besar kemungkinan infeksi kuman S. thypi.
v Kultur darah :
Hasil biakan darah positif memastikan demam tifoid, akan tetapi hasil negatif tidak menyingkirkan demam tifoid, karena ada faktor-faktor lain seperti berikut :
· Telah mendapat terapi antibiotik sehingga pertumbuhan kuman terhambat.
· Volume darah yang kurang (± 5cc darah)
· Riwayat vaksinasi, vaksinasi pada masa lampau dapat membentuk antibodi. Antibodi ini dapat menekan bakteremia.
· Pengambilan darah setelah minggu pertama, pada saat aglutinin semakin meningkat.
7. Causative dan symptomatic
Kausatif :
Chloramfenikol
Sefalosporin Generasi 3
Symptomatik (Diobati sesuai gejala) :
Mual dan muntah diberi antiemetic (metaklopramid)
Panas diberi antipiretik (paracetamol)
Nyeri kepala diberi analgetik (metampiron)
8. Pentalaksaan demam thypoid :
v Pemberian Antibiotik : antibiotik ini digunakan untuk menghentikan serta memusnahkan penyebaran kuman.
v Istirahat dan perawatan profesinal :
Bertujuan mencegah komplikasi dan mempercepat pernyembuhan. Pasien harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih 14 hari. Mobilisasi dilakukan secara bertahap, sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien. Dalam perawatan harus di jaga kebersihan ruangan, pakaian, tempat tidur, peralatan untuk pasien dan higienitas makanan. Pasien dengan kesadaran menurun posisinya perlu diubah-ubah untuk mencegah pneumonia hipostatik. Defekasi dan buang air kecil perlu diperhatikan karena kadang terjadi konstipasi.
v Diet dan terapi penunjang (simtomatis dan suportif)
· Pemberian bubur saring, kemudian bubur kasar, dan nasi, sesuai dengan tingkat kesembuhan pasien.
· Pemberian makanan padat dini, yakni nasi dengan lauk pauk rendah selulosa (pantang serta kasar).
· Pemberian vitamin dan mineral untuk mendukung keadaan umum pasien. Diharapkan dengan menjaga keseimbangan homeostasis, sistem imun akan terbentuk.
· Pada kasus perforasi intetsinal dan renjatan septik diperlukan perawatan intensif dengan nutrisi parenteral total, yakni kombinasi beberapa obat yang bekerja sinergis maupun spektrum antibiotik.
9. Nutrisi penunjang demam typhoid
a) Mudah cerna, porsi makanan kecil dan diberikan sering
b) Protein cukup untuk mengganti jaringan yg rusak
c) Tidak merangsang, secara mekanik, termis maupun kimia
d) Dipertimbangkan suplemen vitamin (B12)
10. Lifestyle
Higienis sanitasi harus baik
Jgn jajan pinggir jalan
Stress
Asupan gizi
11. Cara kerja Parasetamol dan Amoksilin :
v Parasetamol :
· Farmakodinamik : efek analgesik parasetamol serupa dengan salisilat yaitu menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Keduanya menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga juga berdasarkan efek sentral seperti salisilat. Efek anti-inflamasinya sangat lemah oleh karena itu parasetamol tidak digunakan sebagai antireumatik. Parasetamol merupakan penghambat biosintesis PG yang lemah. Efek iritasi, erosi, dan pendarahan lambung tidak terllihat pada obat ini, demikian juga gangguan pernapasan dan keseimbangan asam-basa.
· Farmakodinamik : Parasetamol diabsorpsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasi tertinggi dalam plasma antara ½ jam dan masa paruh plasma antara 1-3 jam. Obat ini tersebar keseluruh tubuh dan akan di metabolisme oleh enzim mikrosom hati Obat ini akan diekskresi melalui ginjal, sebagian parasetamol dan sebagian besar dalam bentuk konjugasi.
v Amoksilin :
· Farmakodinamik :
· Farmakokinetik :
Tipe demam berdasarkan pola dapat dibagi menjadi empat, yaitu :
a. Demam Remitten
Menurun setiap hari namun tidak mencapai normal.
b. Demam Intermitten
Suhu badan menurun normal dalam beberapa jam dalam waktu 1 hari.
c. Demam Kontinyu
Variasi suhu tak berbeda lebih dari 1’C.
d. Demam Siklik
Suhu meningkat beberapa hari, normal, dan meningkat lagi seperti semula.
2. Definisi penyakit yang ditimbulkan oleh Salmonella tyhpi
Demam tifoid atau demam enterik merupakan penyakit demam akut yang disebabkan oleh kuman Salmonella thypi. Penyakit ini dapat pula disebabkan oleh S. Enteritis bioserotip paratyhpi A dan S. Enteridis serotip parathypi B yang disebut demam paratifoid. Tifoid berasal dari bahasa Yunani yang berarti smoke, karena terjadi penguapan panas tubuh serta gangguan kesadaran disebabkan demam yang tinggi.
Port d’entre S. Thypi adalah usus. Seseorang bisa menjadi sakit bila menelan organisme ini. Organisme yang tertelan tadi masuk ke dalam lambung untuk mencapai usus halus. Asam lambung tampaknya kurang berpengaruh terhadap kehidupannya. Organisme secara cepat mencapai usus halus bagian proksimal, melakukan penetrasi ke dalam epitel mukosa S. thypi telah sampai di kelenjar getah bening regional mesenterium dan kemudian trejadi bakteremia dan kuman sampai di hati, limpa, juga sumsung tulang, dan ginjal. S. thypi segera difagosit oleh sel-sel fagosit mononukleus yang ada di organ tersebut. Di sini kuman berkembang biak memperbanyak diri. Inilah karaketristik dari S. thypi yang akan menentukan perjalanan penyakit yang ditimbulkannya.
3. Patogenesis dari infeksi yang ditimbulkan oleh Salmonella thypi
Salmonella thypi masuk tubuh manusia melalui makanan dan air yang tercemar. Sebgaian kuman dimusnahkan oleh asa lambung dan sebagian yang lainnya masuk ke dalam usus halus dan mencapai jaringan limfoid plak Peyeri di ileum terminalis yang hipertrofi. Bila terjadi komlikasi perdarahan dan perforasi intestinal, kuman menembus lamina propia, masuk alirna limfe mencapai kelenjar limfe mesenterial, dan masuk alirna darah melaui duktus torasikus. Salmonella thypi lain dapat mencapai hati melalui sirkulasi portal usus. S. thypi bersarang di plak Peyeri, limpa, hati, dan bagian-bagian lain sistem retikuloendotelial. Endotoksin S. thypi berperan dalam proses inflamasi lokal pada jaringan tempat kuman tersebut berkembangbiak. S. thypi dan endotoksinnya merangsang sintesis dan pelepasan zat pirogen dan leukosit pada jaringan yang meradang, sehingga terjadi demam.
4. Deskripsi dan mikrobiologi kuman Salmonella thypi :
Salmonella thypi merupakan organisme yang berasal dari genus Salmonella, agen penyebab bermacam-macam infeksi, mulai dari gastroenteritis yang paling ringan sampai dengan demam tifoid yang berat disertai bakteremia.
v Morfologi : kuman berbentuk batang, tidak berspora, pada pewarnaan gram bersifat negatif Gram, ukuran 1-3,5 µm x 0,5-0,8 µm, besar koloni rata-rata 2-4 mm, mempunyai flagel peritrikh kecuali Salmonella pullorum dan Salmonella gallinarum.
v Fisiologi : kuman tumbuh pada suasana aerob dan fakultatif anaerob, pada suhu 15-41oC (optimum pertumbuhan 37,5oC) dan pada pH 6-8. Salmonella thypi hanya sedikit membentuk gas H2S dan tidak memebntuk gas pada fermentasi glukosa. Pada agar SS, Endo, EMB, dan MacConkey koloni kuman berbentuk bulat, kecil, dan tidak berwarna, pada agar Wilson-Blair koloni kuman berawarna hitam.
v Daya Tahan : kuman mati pada suhu 56oC juga pada keadaan kering. Dalam air bisa tahan selama 4 minggu. Hidup subur pada medium yang mengandung garam empedu. Tahan terhadapat zat warna hijau brilian dan senyawa Natrium tetraionat, dan Natrium deoksiholat.
5. “Sign and Symtomps” dari penyakit thypoid
Demam tifoid berlangsung antara 10-14 hari. Gejala-gejala klinis yang timbul sangat bervariasi dari ringan sampai denga berat, dari asimtomatik hingga gambaran penyakit yang khas disertai komplikasi hingga kematian.
v Gejala pada minggu pertama :
· Demam, nyeri kepala, pusing, nyeri otot, anoreksia, mual, muntah, obstipasi atau diare
· Perasaan tidak enak di perut, batuk, epistaksis
· Pada pemeriksaan fisik hanya didapati suhu badan yang meningkat. Sifat demamnya meningkat perlahan-lahan terutama pada sore hingga malam hari.
v Gejala pada minggu kedua :
· Demam
· Bradikardia relatif (bradikardia relatif adalah peningktan suhu 1oC tidak diikuti dengan peningkatan denyut nadi 8 kali/menit)
· Lidah berselaput (kotor di tengah, tepi, dan ujung merah serta tremor)
· Hepatomegali, spleenomegali, meteroismus
· Gangguan mental berupa somnolen, stupor, koma, delirium, atau psikosis
· Rosolae jarang ditemukan pada orang Indonesia
6. Pemeriksaan laboratorium yang diperlukan dan fungsinya
v Pemerikasaan rutin :
Pada pemeriksaan darah perifer lengkap sering ditemukan leukopenia namun dapat pula terjadi kadar leukosit yang normal atau leukositosis. Leukositosis dapat terjadi walaupun tanpa disertai infeksi sekunder. Selain itu dapat juga ditemukan anemia ringan dan trombositopenia.
Pada pemeriksaan hitung jenis leukosit dapat terjadi aneosinofilia maupun limfopenia. Laju endap darah pada demam tifoid dapat meningkat.
SGOT dan SGPT dapat meningkatm tetapi akan menjadi normal setelah sembuh.
v Uji Widal :
Uji Widal dilakukan untuk mendeteksi antibodi terhadapt kuman S. thypi. Pada uji ini terjadi reaksi aglutinasi antara antigen kuman S. thypi dengan antibodi yang disebut aglutinin.
Maksud uji Widal adalh untuk menemukan adanya aglutinin dalam serum penderita tersangka demam tifoid yaitu :
· Aglutinin O (somatik kuman)
· Aglutinin H (flagela kuman)
· Aglutinin Vi (envelope kuman)
Dari ketiga aglutinin tersebut hanya aglutinin O dan H yang digunakan untuk diagnosis demam tifoid. Semakin tinggi titernya semakin besar kemungkinan infeksi kuman S. thypi.
v Kultur darah :
Hasil biakan darah positif memastikan demam tifoid, akan tetapi hasil negatif tidak menyingkirkan demam tifoid, karena ada faktor-faktor lain seperti berikut :
· Telah mendapat terapi antibiotik sehingga pertumbuhan kuman terhambat.
· Volume darah yang kurang (± 5cc darah)
· Riwayat vaksinasi, vaksinasi pada masa lampau dapat membentuk antibodi. Antibodi ini dapat menekan bakteremia.
· Pengambilan darah setelah minggu pertama, pada saat aglutinin semakin meningkat.
7. Causative dan symptomatic
Kausatif :
Chloramfenikol
Sefalosporin Generasi 3
Symptomatik (Diobati sesuai gejala) :
Mual dan muntah diberi antiemetic (metaklopramid)
Panas diberi antipiretik (paracetamol)
Nyeri kepala diberi analgetik (metampiron)
8. Pentalaksaan demam thypoid :
v Pemberian Antibiotik : antibiotik ini digunakan untuk menghentikan serta memusnahkan penyebaran kuman.
v Istirahat dan perawatan profesinal :
Bertujuan mencegah komplikasi dan mempercepat pernyembuhan. Pasien harus tirah baring absolut sampai minimal 7 hari bebas demam atau kurang lebih 14 hari. Mobilisasi dilakukan secara bertahap, sesuai dengan pulihnya kekuatan pasien. Dalam perawatan harus di jaga kebersihan ruangan, pakaian, tempat tidur, peralatan untuk pasien dan higienitas makanan. Pasien dengan kesadaran menurun posisinya perlu diubah-ubah untuk mencegah pneumonia hipostatik. Defekasi dan buang air kecil perlu diperhatikan karena kadang terjadi konstipasi.
v Diet dan terapi penunjang (simtomatis dan suportif)
· Pemberian bubur saring, kemudian bubur kasar, dan nasi, sesuai dengan tingkat kesembuhan pasien.
· Pemberian makanan padat dini, yakni nasi dengan lauk pauk rendah selulosa (pantang serta kasar).
· Pemberian vitamin dan mineral untuk mendukung keadaan umum pasien. Diharapkan dengan menjaga keseimbangan homeostasis, sistem imun akan terbentuk.
· Pada kasus perforasi intetsinal dan renjatan septik diperlukan perawatan intensif dengan nutrisi parenteral total, yakni kombinasi beberapa obat yang bekerja sinergis maupun spektrum antibiotik.
9. Nutrisi penunjang demam typhoid
a) Mudah cerna, porsi makanan kecil dan diberikan sering
b) Protein cukup untuk mengganti jaringan yg rusak
c) Tidak merangsang, secara mekanik, termis maupun kimia
d) Dipertimbangkan suplemen vitamin (B12)
10. Lifestyle
Higienis sanitasi harus baik
Jgn jajan pinggir jalan
Stress
Asupan gizi
11. Cara kerja Parasetamol dan Amoksilin :
v Parasetamol :
· Farmakodinamik : efek analgesik parasetamol serupa dengan salisilat yaitu menghilangkan atau mengurangi nyeri ringan sampai sedang. Keduanya menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga juga berdasarkan efek sentral seperti salisilat. Efek anti-inflamasinya sangat lemah oleh karena itu parasetamol tidak digunakan sebagai antireumatik. Parasetamol merupakan penghambat biosintesis PG yang lemah. Efek iritasi, erosi, dan pendarahan lambung tidak terllihat pada obat ini, demikian juga gangguan pernapasan dan keseimbangan asam-basa.
· Farmakodinamik : Parasetamol diabsorpsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna. Konsentrasi tertinggi dalam plasma antara ½ jam dan masa paruh plasma antara 1-3 jam. Obat ini tersebar keseluruh tubuh dan akan di metabolisme oleh enzim mikrosom hati Obat ini akan diekskresi melalui ginjal, sebagian parasetamol dan sebagian besar dalam bentuk konjugasi.
v Amoksilin :
· Farmakodinamik :
· Farmakokinetik :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar